Rubrik Power of Mind Radar Bali : Terjebak Masa Lalu: Mengapa Kita Sulit Melangkah?

Santy Sastra, Rubrik Power of Mind Radar Bali : Terjebak Masa Lalu: Mengapa Kita Sulit Melangkah?


Rubrik Power of Mind Radar Bali : Terjebak Masa Lalu: Mengapa Kita Sulit Melangkah?

Edisi Minggu, 22 Februari 2026


Ditulis Oleh :

Santy Sastra (@santysastra)

Putu Suprapti Santy Sastra, SH., CHt., CI

Indonesia's Mindset Motivator


PERNAHKAH Anda terbangun di tengah malam hanya untuk memutar ulang kegagalan yang terjadi bertahun-tahun silam? Perasaan seolah kaki terikat pada jangkar raksasa yang tertanam di dasar laut masa lalu adalah pengalaman universal. Fenomena ini bukan sekadar nostalgia, melainkan jebakan psikologis yang sering kali menghambat pertumbuhan diri dan mencuri kebahagiaan hari ini.

Secara biologis, otak manusia memang didesain untuk mengingat kesalahan lebih kuat daripada keberhasilan sebagai mekanisme pertahanan diri. Namun, di era modern, mekanisme ini sering kali malfungsi menjadi "rumuasi"—kondisi di mana kita terus-menerus mengunyah penyesalan lama tanpa mencari solusi. Kita terjebak dalam pertanyaan "mengapa" dan "seandainya", yang sebenarnya tidak memiliki jawaban pasti.

Banyak orang sulit beranjak karena adanya urusan yang belum selesai (unfinished business), seperti maaf yang tak terucap atau dendam yang dipendam. Kita secara tidak sadar merasa bahwa dengan memikirkannya berulang kali, kita bisa mengubah akhir ceritanya. Padahal, masa lalu adalah naskah yang sudah dicetak; tidak ada revisi yang bisa dilakukan di sana.

Selain itu, masa lalu sering menawarkan kenyamanan palsu karena sifatnya yang sudah pasti. Bagi sebagian orang, masa lalu—meskipun menyakitkan—adalah wilayah yang sudah dikenal, sementara masa depan tampak seperti kabut tebal yang menakutkan. Ketakutan akan ketidakpastian inilah yang sering kali memaksa seseorang untuk terus menoleh ke belakang dan menetap di sana.

Dampak dari "penjara pikiran" ini sangat nyata bagi kesehatan. Stres kronis akibat penyesalan lama memicu lonjakan kortisol yang melemahkan imun dan mengaburkan fokus. Secara sosial, seseorang yang terjebak di masa lalu cenderung sulit membangun relasi baru karena mereka sibuk membandingkan orang di masa kini dengan bayangan orang di masa lalu.

Penting untuk disadari bahwa memori kita bukanlah rekaman yang akurat; ia sering mendistorsi kenyataan. Kita cenderung mendramatisir kegagalan atau justru mengagungkan masa lalu secara berlebihan (rosy retrospection). Kita sering kali jatuh cinta pada bayangan masa lalu yang sebenarnya tidak pernah seindah yang kita ingat sekarang.

Untuk memutus rantai ini, penerimaan adalah kunci utama. Menerima bahwa masa lalu adalah data untuk belajar, bukan vonis untuk menghakimi diri sendiri. Latihan mindfulness atau kesadaran penuh bisa membantu melatih otak agar tetap berpijak pada momen "saat ini", meyakinkan diri bahwa bahaya masa lalu sudah tidak lagi mengancam.

Masa lalu seharusnya berfungsi seperti kaca spion, bukan kaca depan kendaraan. Ia digunakan sesekali untuk memastikan kita tetap di jalur yang benar, namun pandangan utama harus tetap tertuju pada jalan luas di hadapan. Lepaskan jangkar itu, karena hidup yang sebenarnya tidak terjadi di hari kemarin, melainkan di detik ini.