Rubrik Power of Mind Radar Bali : Melepas Toxic Pikiran Positif Tak Berguna

2 - MELEPAS TOXIC PIKIRAN POSITIF TAK BERGUNA  - Rubrik Power of Mind - Santy Sastra - Radar Bali - Jawa Pos - Santy Sastra Public Speaking


Rubrik Power of Mind Radar Bali : Melepas Toxic  Pikiran Positif Tak Berguna

Edisi Minggu, 10 Juli 2022


Ditulis Oleh :

Santy Sastra (@santysastra)

Putu Suprapti Santy Sastra, SH., CHt., CI

Indonesia's Mindset Motivator


TOXIC  positivity adalah kondisi ketika seseorang menuntut dirinya sendiri atau orang lain untuk selalu berpikir dan bersikap positif serta menolak emosi negatif.

Melihat suatu hal dengan positif memang baik, tapi jika harus dengan menghindari emosi negatif, hal ini justru dapat berdampak buruk bagi kesehatan mental,

Seseorang yang terjebak dalam toxic positivity akan terus berusaha menghindari emosi negatif, seperti sedih, marah atau kecewa, dari suatu hal yang terjadi. Padahal, emosi negatif juga penting untuk dirasakan dan diekspresikan.

Di era media sosial ini, postingan yang berbunyi seperti “having a positive attitude”, “Good vibes only” atau “Be happy” adalah kata-kata yang paling sering ditemukan.

Memiliki pikiran dan sikap positif tidaklah salah. Dan tidak dapat disangkal bahwa bersikap positif dapat menjadi kekuatan dalam beberapa situasi. Apabila dapat mengelolanya, pikiran-pikiran positif ini bisa menjadi pegangan untuk bertahan hidup.

Kadar pikiran positif yang terlalu banyak  tidak baik dan berbahaya. Berpikir dan bersikap positif tidak selalu menjadi cara terbaik.

Sikap positif yang berlebihan ini lebih populer dikenal dengan sebutan toxic positivity.

Mengutip dari Psychology Today, toxic positivity mengacu pada konsep bahwa menjaga pikiran dan sikap tetap positif adalah cara yang tepat untuk menjalani hidup.

Toxic positivity adalah generalisasi yang berlebihan dan tidak efektif dari keadaan bahagia, optimis di semua situasi. Toxic positivity menghasilkan penyangkalan, minimisasi dan invalidasi pengalaman emosional manusia yang otentik.

Ketika menyangkal atau menghindari emosi yang tidak menyenangkan, justru membuat emosi itu menjadi lebih besar.

Menghindari emosi negatif memperkuat gagasan ini,  ketika  menghindari perasaan yang tidak menyenangkan, pikiran  akan berkata bahwa tidak perlu memperhatikannya.

Saat  terjebak dalam siklus ini, emosi-emosi negatif menjadi lebih besar dan lebih signifikan karena emosi tersebut tidak terproses.

Pendekatan positivitas ini tidak dapat berkelanjutan. Secara evolusi, manusia tidak dapat memprogram diri untuk hanya merasakan emosi bahagia dan positif.

Sama seperti apa pun yang dilakukan secara berlebihan, hal itu akan berubah menjadi racun. Dengan menolak keberadaan perasaan tertentu, akan jatuh dalam keadaan penolakan dan emosi yang tertekan.

Karena bagaimanapun, manusia tidaklah sempurna. Manusia juga memiliki kecenderungan  cemburu, marah, kesal dan serakah. Dengan berpura-pura bersikap positif, manusia menyangkal validitas pengalamannya yang sejati.

Cara yang paling tepat adalah dengan me-release pikiran bawah sadar dengan mengikhlaskan dalam pikiran bawah sadar agar benar-benar toxic terlepas tuntas tanpa harus menahannya.(***)