Rubrik Power of Mind Radar Bali : Egois Penting bagi Orang Berjiwa Sosial

1 -Egois Penting Untuk Orang Yang Berjiwa Sosial -  Rubrik Power of Mind - Santy Sastra - Radar Bali - Jawa Pos - Santy Sastra Public Speaking


Rubrik Power of Mind Radar Bali : Egois Penting bagi Orang Berjiwa Sosial

Edisi Minggu, 6 Agustus 2023


Ditulis Oleh :

Santy Sastra (@santysastra)

Putu Suprapti Santy Sastra, SH., CHt., CI

Indonesia's Mindset Motivator


EGOIS  adalah orang yang selalu mementingkan diri sendiri,  tidak mau dikritik, suka melebih-lebihkan pencapaian, namun takut mengambil risiko.

Hampir semua orang setuju bahwa egois adalah sifat yang menyebalkan, tidak heran jika banyak orang yang menjauhi pribadi dengan karakter seperti ini.

Orang yang egois hanya bahagia ketika tujuannya tercapai. Baginya, tujuan bermasyarakat tidak penting, bahkan cenderung untuk diabaikan atau dilanggar jika bertentangan dengan kepentingan dirinya sendiri.

Egois atau egoism adalah karakteristik kepribadian yang ditandai dengan sikap hanya memikirkan diri sendiri. Orang yang egois selalu memutuskan sesuatu berdasarkan pada kepentingan diri sendiri dengan mengabaikan kebutuhan orang lain.

Sifat egois membuat orang tersebut terlihat ingin menang sendiri, tidak peduli kepada orang lain, dan bahkan tidak ragu mengorbankan orang lain untuk kepentingannya sendiri. Kebalikan dari sifat egois adalah kasih sayang, empati, dan rela berkorban.

Pada dasarnya, setiap orang memiliki dorongan untuk bertahan hidup dan sehat. Keegoisan mungkin merupakan perwujudan yang salah dari dorongan tersebut.

Tetapi, sifat egois menjadi negatif ketika kebutuhan kecil untuk diri sendiri yang tidak terlalu penting, didahulukan dibanding membantu orang lain yang sangat membutuhkan atau hal-hal lain yang sifatnya penting.

Sifat egois juga bisa muncul karena adanya masalah kesehatan mental. Banyak gangguan kepribadian yang menyebabkan orang hanya fokus pada keinginannya sendiri sehingga tidak peduli pada kebutuhan orang lain.

Sifat ini seringkali dimiliki oleh orang dengan gangguan kepribadian antisosial dan gangguan kepribadian narsistik.

Selain itu gangguan mental lainnya yang menyebabkan keterlibatan diri yang ekstrem seperti depresi, juga dapat menyebabkan seseorang menjadi lebih egois karena terlalu tenggelam dengan penderitaannya sendiri, sehingga mengabaikan kebutuhan orang-orang di sekitarnya.

Orang egois tidak mau dikritik, tapi senang mengkritik orang lain di belakang punggung. Sayangnya, orang egois ini hanya melihat dari sudut pandangnya dan tidak berempati pada keadaan orang lain.

Egois adalah mereka yang menganggap orang lain yang lebih pintar atau lebih matang adalah musuh, apalagi jika orang itu tidak sependapat dengan si egois.

Ketika bekerja secara kelompok, si egois adalah orang pertama yang akan mengklaim kesuksesan, tapi juga orang pertama yang akan ‘cuci tangan’ ketika proyek buntu. Oleh karena itu, mengerjakan tugas bersama orang egois tidak disarankan, apalagi jika tugas itu berat dan menantang.

Bagi orang yang egois, mendahulukan kepentingan orang lain adalah bentuk kelemahan atau ketidakamanan dalam diri sendiri. Orang egois mengabaikan anggapan yang menyatakan semua manusia pasti memiliki kekurangan yang seharusnya dapat dilengkapi oleh bantuan dari orang lain.

Kadang kala, menjadi egois adalah pilihan yang tepat, terutama bagi orang berjiwa sosial dan membutuhkan ‘me-time’ untuk menyeimbangkan kesehatan mental.