Rubrik Power of Mind Radar Bali : Perbedaan Laki-Laki dan Perempuan

1 -perbedaan Laki-laki dan perempuan - Rubrik Power of Mind - Santy Sastra - Radar Bali - Jawa Pos - Santy Sastra Public Speakingh


Rubrik Power of Mind Radar Bali : Perbedaan Laki-Laki dan Perempuan

Edisi Minggu, 26 Mei 2024


Ditulis Oleh :

Santy Sastra (@santysastra)

Putu Suprapti Santy Sastra, SH., CHt., CI

Indonesia's Mindset Motivator


JOHN Gray pada bukunya yang berjudul Men from Mars, Women from Venus, mengatakan banyak orang berpendapat bahwa perempuan berpikir dengan perasaan atau emosi, sedangkan laki-laki mengedepankan logika.

Perbedaan sikap baik perempuan maupun laki-laki menjadikan keduanya sering mengalami salah paham. Hal ini pun menimbulkan pertanyaan, apakah benar otak perempuan dan laki-laki bekerja dengan cara yang berbeda?

Perbedaan laki-laki dan perempuan yang pertama adalah cara berkomunikasinya. Hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan dalam menyimpan memori. Meski ukuran otak laki-laki lebih besar daripada ukuran otak perempuan, faktanya Hippocampus pada perempuan lebih besar dibandingkan dengan laki-laki.

Hippocampus sendiri merupakan bagian otak yang menyimpan memori, bagian inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa  perempuan bisa mengolah informasi lebih cepat. Perbedaan sifat wanita dan laki-laki dalam merespon informasi terjadi karena perempuan memiliki verbal center pada kedua bagian otaknya, sedangkan laki-laki hanya memiliki verbal center pada otak kiri.

Hal ini yang menyebabkan perempuan lebih suka berdiskusi dan bercerita panjang lebar dibandingkan dengan laki-laki. Ketika laki-laki ingin pikiran atau perasaannya dimengerti, mereka akan mengungkapkannya secara langsung. Sebaliknya, perempuan lebih suka memberikan isyarat agar bisa dimengerti.

Perbedaan pria dan wanita adalah dari cara berpikir. Menurut penelitian yang dilakukan Ragini Verma, otak perempuan lebih bisa mengaitkan memori dan keadaan sosial. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa perempuan mampu melihat dari berbagai sudut pandang dan lebih cepat menarik kesimpulan dibandingkan dengan pria.

Berbeda dengan wanita, pria lebih suka melihat sesuatu yang jelas terlihat, mereka tidak memiliki ‘koneksi’ yang baik tentang hal-hal yang melibatkan perasaan, emosi, atau curahan hati. Hal tersebut dipicu oleh otak laki-laki yang tidak didesain untuk terkoneksi pada perasaan atau emosi, sehingga biasanya mereka sangat jarang melibatkan perasaan dalam mengambil sebuah keputusan.

kemampuan menganalisis perasaan pun jarang dilakukan oleh laki-laki. Hal ini jelas berbeda dibandingkan dengan perempuan yang sering kali melibatkan perasaan saat memutuskan sesuatu. Meskipun otak laki-laki tidak didesain untuk melibatkan perasaan, namun hal tersebut tidak berarti bahwa mereka tidak memiliki rasa empati.

Dr. Brizendine yang dikutip dari Livescience mengatakan, “Empati pada laki-laki bekerja ketika ada seseorang yang menunjukkan perasaannya.” Faktanya, laki-laki lebih memiliki respon yang emosional dibanding perempuan, hanya saja ketika laki-laki menyadari perasaannya, laki-laki memilih untuk tidak memperlihatkannya akibat stereotip yang dibentuk oleh masyarakat.

Begitu pula dengan perempuan. Mereka tampak lebih perasa dibandingkan dengan laki-laki, namun hal ini bukan berarti perempuan tidak bisa mengambil inisiatif untuk maju lebih dahulu mengutarakan perasaannya dalam sebuah hubungan.

Jadi mulai hari ini dan seterusnya tak  ada lagi yang mesti dipermasalahkan perbedaan itu, kunci bahgia adalah dengan saling memahami satu dengan yang lain.