Rubrik Power of Mind Radar Bali : Mengenal Emotional Eating dan Cara Mengatasinya

Santy Sastra, Rubrik Power of Mind Radar Bali : Mengenal Emotional Eating dan Cara Mengatasinya


Rubrik Power of Mind Radar Bali : Mengenal Emotional Eating dan Cara Mengatasinya

Edisi Minggu, 11 Januari 2026


Ditulis Oleh :

Santy Sastra (@santysastra)

Putu Suprapti Santy Sastra, SH., CHt., CI

Indonesia's Mindset Motivator


EMOTIONAL eating atau kadang kala disebut stress eating merupakan fenomena ketika seorang individu menggunakan makanan untuk membuat perasaannya terasa lebih baik, tujuannya untuk menghilangkan rasa lapar.

Tetapi emotional eating justru tidak akan menyelesaikan masalah emosional yang sedang dirasa. Bukannya menyembuhkan, kebiasaan ini mungkin malah akan menimbulkan perasaan bersalah karena sudah makan berlebihan.

Emotional eating biasanya ditandai dengan rasa lapar yang muncul secara tiba-tiba, rasa ingin mengonsumsi makanan tertentu, hasrat makan tanpa disadari, rasa tidak kenyang meski perut sudah penuh, dan juga rasa menyesal atau bersalah setelah banyak makan.

Kebiasaan emotional eating terjadi lantaran beberapa faktor penyebab yang membuat seseorang merasa harus mencari dan menghabiskan makanan agar perasaannya kembali tenang

Saat stres atau merasa tertekan, tubuh akan memproduksi hormon stres (kortisol) dalam jumlah yang tinggi. Hormon ini secara alamiah akan memicu keinginan untuk mengonsumsi makanan asin, manis, gorengan, atau makanan-makanan yang memberikan energi berlebihan dan kenikmatan. Semakin tinggi tingkat stres seseorang, maka akan semakin besar juga ia mencari makanan sebagai pelarian emosional.

Selain stres, individu yang terbiasa memendam emosi juga cenderung akan mencari makanan untuk memendam atau “menekan” emosi tidak nyaman yang sedang dirasa. Emosi-emosi ini termasuk rasa marah, takut, sedih, cemas, sepi, dendam, sampai rasa malu.

Emotional eating juga bisa terjadi ketika seseorang merasa harus melakukan sesuatu untuk menghilangkan rasa bosan atau hampa dalam dirinya. Sebab dengan melakukan aktivitas makan, perasaan bosan atau hampa yang sedang dialami dapat teralihkan.

Kebiasaan-kebiasaan makan tertentu yang biasa dilakukan semasa kecil juga dapat memicu emotional eating. Contohnya adalah kebiasaan mendapatkan makanan manis atau lebih mewah ketika berhasil melalui sebuah pencapaian, yang dapat terbawa hingga dewasa.

Makan bersama teman, keluarga, atau kerabat mungkin akan menghindarkan seseorang dari rasa sepi. Di sisi lain, ketersediaan makanan di atas meja dapat memicu emotional eating, yang membuat seseorang terus makan meski mungkin sudah kenyang.

Cara menghentikan kebiasaan emotional eating adalah dengan menemukan apa pemicu utamanya. Jika sudah mengetahuinya, perlu mencoba untuk mencari solusinya.

Cara lain adalah lakukan dengan mengutamakan opsi makanan-makanan bergizi,  ketika  merasa lapar atau ingin makan sesuatu. Sebagai rekomendasi,  bisa memilih makanan tinggi serat, protein, dan lemak sehat, seperti kacang-kacangan, buah-buahan, yoghurt, atau telur. Selain itu,  juga perlu menghindari mengonsumsi makanan manis dan berlemak.

Mindful eating atau makan dengan kesadaran penuh merupakan praktik makan dengan perhatian dan apresiasi penuh terhadap makanan yang tersaji di atas piring. Secara spesifik, mindful eating termasuk memerhatikan aroma, tekstur, hingga rasa makanan yang sedang dikonsumsi. Jangan lupa juga untuk memerhatikan porsi camilan maupun makanan utama agar tidak berlebihan

Melakukan aktivitas fisik seperti berolahraga juga dapat menurunkan kadar hormon stres di dalam tubuh, termasuk hormon kortisol dan adrenalin.  Berolahraga juga dapat memicu produksi hormon endorfin, yaitu hormon yang memperbaiki mood dan mengatasi stres.


Terbaru